Pages

Rabu, 15 April 2015

jelang Muktamar NU 2015

Jakarta, NU Online
Sidang Komisi Organisasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2014, Sabtu (1/11) malam, akhirnya memberikan tenggang waktu sampai pelaksanaan Muktamar NU 2015 kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk kembali ke pangkuan NU.

“Disepakati bahwa PBNU memberikan tenggang waktu kepada PMII sampai menjelang Muktamar NU 2015 nanti. Jika belum ada kehendak kembali ke NU maka akan dibahas kemungkinan untuk membentuk organisasi kemahasiswaan NU yang baru,” kata Ketua PBNU Imam Aziz yang memimpin sidang komisi orgainsasi di ruang pertemuan lantai 5 kantor PBNU, Jakarta.

Menurutnya, NU merasa perlu untuk mengkonsolidasikan kader NU yang ada di berbagai perguruan tinggi. Apalagi saat ini perguruan-perguruan tinggi baru di bawah naungan NU juga semakin banyak. Sementara saat ini posisi PMII sebagai organisai mahasiswa NU dianggap tidak jelas.

“Sekarang ini ada keterputusan jenjang kaderisasi. Masa IPNU sebagai organisasi pelajar ada di perguruan tinggi! Biar IPNU fokus ke pelajar dan tidak ada perdebatan soal batas usia,” katanya.

Munas-Konbes NU belum sampai membahas nama untuk organisasi kemahasiswaan yang baru. Sempat muncul nama IMANU atau ikatan mahasiswa NU. Selain itu juga telah ada organisasi mahasiswa lain yang menamakan diri sebagai bagian dari NU, seperti keluarga mahasiswa NU atau KMNU. “Kita perlu wadah yang jelas,” pungka Imam Aziz.

Seperti diketahui, PMII didirikan pada 1960 yang merupakan kelanjutan jenjang kaderisasi NU dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada 1972 dalam suasana tekanan politik Orde Baru PMII menyatakan independen dari NU. Lalu pada 1991 PMII mengumumkan “interdependensi” yang berarti “mempunyai persamaan-persamaan dalam persepsi keagamaan dan perjuangannya, visi sosial dan kemasyarakatan,dan mempunyai ikatan historis dengan NU”, namun tetap tidak mau menjadi organisasi kemahasiswaan atau badan otonom NU. (A. Khoirul Anam)

Kamis, 04 Desember 2014

Belajar Kepemimpinan dari Monkey D. Luffy

Memutuskan menjadi seorang pemimpin memang bukan hal yang sulit. Tapi menjalankan amanat dan memanajemen organisasi dalam konteks kepemimpinan bukan hal semudah membalikkan telapak tangan.
Karakter dan prinsip seseorang akan diuji dalam menerima jabatan ini. Baik sebagai ketua lembaga, organisasi atau bahkan hanya sebagai koordinator kelompok kecil sekalipun. Karna tidak sembarang orang berhasil keluar dan lolos dengan selamat, dari cengkraman posisi ini.
Monkey D. Luffy, adalah sosok pemimpin sejati yang unik. Kapten Bajak laut yang menjadi tokoh utama dalam komik One Piece karya Eiichiro Oda ini, memiliki magnet kepemimpinan yang sangat luar biasa. Metode persahabatan yang dia gunakan saat menjadi seorang pemimpin, sama sekali tidak melunturkan citranya sebagai seorang kapten bajak laut.
Sekilas, si Topi Jerami ini tak terlihat seperti seorang pemimpin. Tapi jangan salah, sosoknya yang cenderung terlihat seperti anak bodoh ini sangat disegani dan dipatuhi oleh para anggotanya. Bahkan tak satupun anggota bajak laut yang dia pimpin, berniat melanggar apapun intruksinya. Lalu apa kunci dari metode kepemimpinan yang diterapkan Luffy?
Memandang Anggota sebagai Teman
Sebagai kapten, Luffy tidak pernah memposisikan anggota bajak laut yang dipimpinnya sebagai bawahan. Dia selalu memposisikan anggotanya sebagai teman yang memiliki posisi, tanggungjawab serta keahlian yang berbeda-beda. Namun semuanya tergabung dalam satu kesatuan sebagai tim.
Meski demikian, Luffy memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi sebagai kapten dalam tim. Dia menjadi sosok yang selalu mencoba melindungi setiap anggotanya. Hanya satu alasan yang selalu dia lontarkan saat melindungi anggotanya, “karna dia adalah temanku”.
Rasa saling memiliki serta loyalitasnya yang tinggi kepada setiap anggotanya inilah, yang menumbuhkan rasa cinta serta kekompakkan tim. Setiap anggota terdorong untuk melakukan hal yang sama satu sama lainnya.
Tanggungjawab yang Tinggi
Meski terlihat menyebalkan dan bodoh, Luffy selalu ambil bagian pertempuran yang paling berat dan berbahaya. Tidak sepeti pemimpin pada umumnya yang cenderung hobi memberikan intruksi kepada anggota, dia selalu ambil bagian dalam menyelesaikan pertempuran atau dalam setiap masalah apapun.
Hal inipun mengajarkan kepada setiap anggotanya untuk sensitif terhadap segala situasi. Efeknya, jika tim tersebut dihadapkan oleh sebuah masalah, masing-masing anggota dengan sendirinya, akan mengambil bagian dan saling membantu tanpa harus diperintah.
Bijaksana
Secara kasat mata, Luffy sama sekali bukan sosok yang mencerminkan sikap bijaksana. Meskipun kerap plin plan, namun Luffy selalu mengambil keputusan tegas dalam situasi yang terdesak. Keputusan yang diambil memang kerap gila dan membuat anggotanya kesal bahkan marah, karna terpaksa harus mengikuti keputusannya sebagai kapten. Meski demikian, insting Luffy tak jarang meleset meskipun awalnya dianggap sebagai keputusan yang gila dan mustahil.
Luffy adalah sosok yang menghargai pendapat dan keinginan setiap anggotanya. Dalam berbagai kondisi, dia selalu memberikan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk berpendapat dan menyelesaikan suatu hal. Inipun dia lakukan berdasarkan pemahamannya terhadap kemampuan serta keahlian dari masing-masing anggotanya.
Perlakuan yang dia terapkan pada setiap anggota tersebut pun, mampu menularkan sifat keterbukaan dan saling percaya dalam tim. Luffy juga merupakan sosok yang membebaskan setiap anggotanya untuk mengejar mimpinya masing-masing.
Berkarakter, Memiliki Prinsip dan Tulus
Karakter Luffy yang bandel serta prinsipnya yang tidak pernah takut apapun bahkan kematian, memancarkan aura kepemimpinan yang sangat sempurna. Ketulusannya dalam melindungi serta memimpin teman-temannya berlayar, menjadi magnet tersendiri bagi setiap anggotanya. Meskipun kerap bersikap seperti kekanak-kanakan yang menyebalkan, namun Luffy adalah sosok pemimpin yang tegas dan bijak.
Oleh Novriana Dewi
Penulis adalah tim manajemen pmii.or.id

Rabu, 03 Desember 2014

KETIKA KONFERENSI CABANG HARUS GAGAL KARENA KEPENTINGAN.



Rusaknya Perisai Lamongan Akibat Korosi Tendensi
 (Politik Balas Budi, Egosentris Pribadi, Sesuap Nasi)

Rabu, 03 Desember 2014 catatan Buku Sejarah Pergerakan Mahasiswa Islam indonesia Memiliki cerita buruk, untuk pertama kalinya Konferensi Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Lamongan gagal dalam pelaksanaanya, bahkan gagalnya KONFERCAB ini meninggalkan citra buruk bagi banyak kader yang mengikuti konfercab, meskipun dalam sejarahnya KONFERCAB selalu terjadi gesekan gesekan kuat dalam prosesnya, akan tetapi  secara keseluruhan acara KONFERCAB selalu sukses terlaksana dan selesai sesuai jadwal yang sudah di siapkan, tidak halnya dengan KONFERCAB PC.PMII LAMONGAN 2014, yang di jadwalkan pada 30 september dan berakhir pada 03 desember 2014 oleh panitia justru “korat-karet” dan tidak selesai hingga jadwal yang sudah di tetapkan panitia,  selesai dalam arti bahwa KONFERCAB Mengevaluasi  kerja kepengurusan  Cabang  tahun ini dan memunculkan rekomendasi-rekomendasi untuk tahun depan  serta memilih pemimpin baru untuk kepengurusan selanjutnya, jangankan menyelesaikan 3 hal pokok dalam KONFERCAB tersebut, forum sidang pun tidak pernah terjadi.!! Seperti kita tahu dapat disebut sebagai forum sidang jika di dalam forum terdapat presidium sidang, peserta sidang dan tentunya draf yang kita bahas.  Akan tetapi dalam KONFERCAB tahun ini berbeda,  di dalam forum ada perserta sidang namun peserta sidang di biarkan berargument bebas tanpa adanya presidium yang  sah  memimpin forum tersebut sehingga yang nampak justru seperti para ibu-ibu rumah tangga yang sedang adu bacot dengan tetangganya. Debat kusir tanpa akhir....!!!

            Lalu, sebenarnya apa yang membuat semua itu terjadi..??? yap, jawabanya ketidaksiapan panitia dan pengurus cabang dalam melaksanakan konfercab yang secara analisa sudah di tumpangi oleh TEDENSI-TENDENSI KEPENTINGAN,  tendensi yang sudah lama ada dalam tubuh perisai yang akhirnya berkorosi di dalamnya hingga hari ini menghadirkan kehancuran Perisai Lamongan dalam perjalanan panjang sejarah Perisai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Lamongan. Tendensi inilah yang membuat Ketua Cabang tahun ini tidak bisa berbuat banyak saat di hadapkan dengan protes  keras oleh para perserta KONFERCAB yang di wakili dari tiap-tiap Rayon dan Komisariat se-Lamongan, seabanya adalah  ada lima Rayon dadakan yang disahkan dengan Surat Keputusan Ketua Cabang dengan Status Rayon Definitif. Sedangkan lima Rayon baru ini baru di tetapkan pada bulan terdekat memasuki moment KONFERCAB yaitu pada bulan septerber tahun ini, padahal sesuai aturan AD/ART, dikatakan sebagai Rayon definitif  apabila Rayon yang di maksud sudah melakukan proses pengkaderan didalam rayonnya minimal satu tahun dengan sudah membuat MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru)sendiri, jika syarat itu sudah dilaksanakan maka pengurus rayon yang di maksud berhak mendapatkan Surat Keputusan sebagai rayon defitif dan bukan menjadi rayon persiapan lagi. Inilah biang dari kegagalan KONFERCAB tahun ini, meski mendapat banyak protes dari banyak peserta, ketua cabanga dan ketua SC KONFERCAB “kekeh” ingin tetap meloloskan lima rayon yang seharusnya  masih berstatus rayon persiapan itu yang seharusnya belum bisa mendapatkan surat keputusan rayon definitif  tersebut sebagai peserta KONFERCAB.
            Yang paling miris adalah bukan hanya keberpihakan pada salah satu kelompok, akan tetapi ketua cabang  yang seharusnya paling bertangggung jawab atas suksesi pelaksanaan KONFERCAB tahun ini justru membiarkan para peserta yang di undangnya  “keleleran” tanpa ada tempat  istirahat yang layak, tidak tepatnya jadwal yang disusun, bukan terlambat  1-10 menit, akan tetapi ber jam-jam dan banyak peserta yang mengeluhkan ketidaksiapan Panitia dan Ketua Cabang dalam melaksanakan  KONFERCAB dengan merusak fasilitas KONFERCAB seperti membakar Benner KONFERCAB  sebagai bentuk kegagalan KONFERCAB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Lamongan tahun 2014 ini. “ mereka dirampas haknya, terlantar dan lapar” ujar salah satu peserta KONFERCAB.
            Entah ini tentang tendensi balas budi, sesuap nasi dan atau egosentris pribadi, yang jelas tedensi ini telah banyak merugikan PMII secara institusi, hanya karena kepentingan pribadi hingga merugikan institusi PMII baik secara Eksistensi maupun Kaderisasi di lamongan. Sebab dengan adanya sejarah kelam berupa KONFERCAB gagal ini perjalanan sejarah Pergerkan Mahasiswa Islam Lamongan berada pada titik  terendah,  dalam setahun kegiatan formalitas sangat jarang ada bahkan nyaris tidak ada, sedangkan proses KADERISASI  pengawalan pada Komisariat-Kosariat tidak berjalan baik, sebagai contoh nyata adalah tidak adanya Ketua Cabang saat di undang dalam acara-acara penting macam Pelantikan Pengurus Komisariat  dan Pengurus Rayon UNISDA 2014. 
            Semoga saja hari ini menjadi titik balik untuk pengurusan tahun depan (belum ditentukan siapa, karena KONFERCAB akan di ambil oleh PKC JATIM) untuk membawa kembali Eksistensi dan Kejayaan PMII yang pernah di capai dahulu. Amiiin....

Kamis, 27 November 2014

Demo BBM, Mahasiswa Gabungan Paksa Bupati dan Ketua DPRD (Cipayung lamongan)

Demo BBM, Mahasiswa Gabungan Paksa Bupati dan Ketua DPRD
Senin, 24 November 2014 17:59 WIB
Demo BBM, Mahasiswa Gabungan Paksa Bupati dan Ketua DPRD
surya/hanif manshuri
Tampak Ketua DPRD Lamongan, Kaharudin membubuhkan tandatangannya di atas spanduk yang diusung gabungan mahasiswa, IMM, PMII dan HMI sebagai bukti dukungannya terhadap penolakan kenaikkan harga BBM, Senin (24/11/2014).
SURYA Online, LAMONGAN - Ratusan mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bergerak bersama melakukan aksi demo menola penaikkan harga BBM, Senin (24/11/2014).
Para mahasiswa underbow Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama ini mengalami aksinya dari bundaran Adipura jalan Lamongrejo - Jaksa Agung Suprapto seperti umumnya aksi berorasi dengan berbagai tuntutannya."Kami tetap menolak kenaikkan harga BBM. Pemerintahan Joko Widodo ternyata menyengsarakan rakyat,"tegas Wahyu Widodo saat berorasi, Senin (24/11).
Ketika tiba di Kantor Pemkab, gabungan para mahasiswa ini mendaulat pemimpin tertinggi Lamongan agar mau menemui dan membubuhkan tandatangannya sebagai bukti dukungannya terhadap mahasiswa soal penolakan kenaikkan harga BBM.
Sayang, orang nomor 1 di Lamongan itu, Fadeli tidak menemui pendemo. Dan diwakili Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Faiz Junaidi.
"Kabupaten Lamongan ini mayoritas penduduknya adalah petani, nelayan dengan kemampuan ekonomi pas - pasan,"tegas Wahyu.
Mereka saat ini telah dihadapkan pada problema kenaikkan harga bahan pokok sebagai akibat kenaikkan harga BBM. Pemerintah daerah, atau bupati harus ikut bertanggungjawab sekaligus harus berani menolak kenaikkan harga BBM.
Mahasiswa akhirnya memaksa Asisten Ekonomi dan Pembangunan untuk membubuhkan tandatangannya di atas sepanduk sebagai bukti kalau bupati dan pemerintah Lamongan juga tidak mendukung program pemerintah yang menaikkan harga BBM.
Puas dengan langkah Faiz yang memberanikan diri membubuhkan tandatangannya sebagai bukti dukungannya terhadap mahasisa yang menolak kenaikkan harga BBM, sekitar 200 mahasiswa ini berlanjut untuk bergeser ke Gedung DPRD di Jalan Basuki Rahmad.
Di depan pintu gerbang DPRD, massa ditemui langsung Ketua DPRD, Kaharudian dan sejumlah Ketua Fraksi PKB, Sukandar, dan Debby Kurniawan dan sejumlah anggota DPRD. Namun hanya Kaharudin, sang Ketua DPRD yang membubuhkan tandatangannya mendukung penolakan kenaikkan harga BBM. Di bahu Jalan Basuki Rahmad, tepat di depan pintu gerbang DPRD, Kaharudin membubuhkan tandatangannya di atas sepanduk.
“Apa yang menjadi aspirasi masyarakat akan kita perjuangkan. Sikap DPRD Lamongan menolak kenaikkan harga BBM. Sama dengan anda (mahasiswa, red), dan ini sama dengan harapan kita,”tegas Kaharudin .
Tak hanya itu, Kaharudin juga ditodong untuk menandatangani pernyataan sikap penolakan kenaikkan harga BBM di atas kertas yang telah diformat para pendemo. Melihat hanya Ketua DPRD yang tandatangan, sementara ada sejumlah Ketua Fraksi yang membuntuti Kaharudin, massa meminta perwakilan PKB, PDIP untuk turut serta tandatangan.
Namun permintaan para mahasiswa itu tidak direspon oleh PKB maupun PDIP.
“Ketua DPRD sudah cukup mewakili anggota DPRD semuanya,”elak Ketua Fraksi PKB, Sukandar dimana partainya masuk dalam koalisi Jokowi.
Beberapakali mahasiswa berteriak agar PKB dan PDIP yang ada di DPRD Lamongan ikut tandatangan tidak digubris. ‘Ayo perwakilan PKB dan PDIP ikut tandatangan sebagai bukti pembelaan anda terhadap rakyat kecil menolak kenaikkan harga BBM,”tegas pendemo. Namun, sebaliknya teriakan itu ditanggapi dinggin wakil rakyat dan anggota DPRD dari PKB, PDIP ini balik kanan masuk gedung dewan.
Massa akhirnya kembali membubarkan diri. Ketika tiba di perempatan jalan timur gdeung DPRD, pendemo kembali menggelar orasi tepat di tengah perempatan jalan hingga beberapa menit dan akhirnya membubarkan diri.
Aksi para mahasiswa ini dijaga superketan oleh anggota polres dengan melibatkan anggota dari polsek terdekat, seperti Polsek Tikung, Deket, Sukodadi, Pucuk dan Lamongan Kota. Selama aksi berlangsung tidak ada insiden menonjol yang membuat repot polisi
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA
Baca Juga
Tolak BBM Naik Seminggu Demo 2 Kali
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Satwika Rumeksa

Sabtu, 01 November 2014

PMII kembali ke Kendali NU pada 2015

Jakarta, NU Online
Sidang Komisi Organisasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2014, Sabtu (1/11) malam, akhirnya memberikan tenggang waktu sampai pelaksanaan Muktamar NU 2015 kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk kembali ke pangkuan NU.

“Disepakati bahwa PBNU memberikan tenggang waktu kepada PMII sampai menjelang Muktamar NU 2015 nanti. Jika belum ada kehendak kembali ke NU maka akan dibahas kemungkinan untuk membentuk organisasi kemahasiswaan NU yang baru,” kata Ketua PBNU Imam Aziz yang memimpin sidang komisi orgainsasi di ruang pertemuan lantai 5 kantor PBNU, Jakarta.

Menurutnya, NU merasa perlu untuk mengkonsolidasikan kader NU yang ada di berbagai perguruan tinggi. Apalagi saat ini perguruan-perguruan tinggi baru di bawah naungan NU juga semakin banyak. Sementara saat ini posisi PMII sebagai organisai mahasiswa NU dianggap tidak jelas.

“Sekarang ini ada keterputusan jenjang kaderisasi. Masa IPNU sebagai organisasi pelajar ada di perguruan tinggi! Biar IPNU fokus ke pelajar dan tidak ada perdebatan soal batas usia,” katanya.

Munas-Konbes NU belum sampai membahas nama untuk organisasi kemahasiswaan yang baru. Sempat muncul nama IMANU atau ikatan mahasiswa NU. Selain itu juga telah ada organisasi mahasiswa lain yang menamakan diri sebagai bagian dari NU, seperti keluarga mahasiswa NU atau KMNU. “Kita perlu wadah yang jelas,” pungka Imam Aziz.

Seperti diketahui, PMII didirikan pada 1960 yang merupakan kelanjutan jenjang kaderisasi NU dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada 1972 dalam suasana tekanan politik Orde Baru PMII menyatakan independen dari NU. Lalu pada 1991 PMII mengumumkan “interdependensi” yang berarti “mempunyai persamaan-persamaan dalam persepsi keagamaan dan perjuangannya, visi sosial dan kemasyarakatan,dan mempunyai ikatan historis dengan NU”, namun tetap tidak mau menjadi organisasi kemahasiswaan atau badan otonom NU. (A. Khoirul Anam)

Kamis, 30 Oktober 2014

Diskusi Hari Sumpah Pemuda

Pemuda; Perumus NKRI
*oleh: Kangzii
(Sekretaris II PC PMII Surabaya, Direktur Eksekutif Jayabaya Politica)




Hidup Pemuda-Pemudi Indonesia…!!!
Hidup Pemuda-Pemudi Indonesia…!!!
Hidup Pemuda-Pemudi Indonesia…!!!

                Teriakan lantang yang akan kita dengar dari corong suara megaphone pemuda-pemudi  saat tanggal 28 Oktober di depan gedung megah yang di bangun oleh uang  pajak rakyat, teriakan yang memaksa otot terlihat, di bakar teriak panas matahari, berlumur debu jalanan. Apa makna yang mereka teriakkan ? sebesar apa ketulusan teriakan mereka, sebungkus nasi ataukah hanya sekedar untuk sejepret foto ?
                Pemuda selalu identik dengan semangat yang menggebu-gebu, energik, tantangan baru, Konsumen tetap hal-hal baru. Pemuda juga tidak pernah jauh dengan tindakan negative, pergaulan bebas, free sex dan drugs adalah hal-hal yang melekat pada pemuda bangsa hari ini. Pemuda hari ini adalah pemuda yang senang menerima hasil dari pada member hasil, siat konsumtif tidak di antisipasi dengan kekuatan pemberdayaan pemuda yang original, kemabli kalau kita simak ayat sumpah pemuda Indonesia:

Sumpah pemuda-Pemudi Indonesia

Kami pemuda-pemudi Indonesia mengaku
Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

Kami pemuda-pemudi Indonesia mengaku
Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami pemuda-pemudi Indonesia
Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia

                Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang

kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat


dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17Tahun.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
  • Ketua                     : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
  • Wakil Ketua         : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
  • Sekretaris              : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
  • Bendahara            : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
  • Pembantu I           : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
  • Pembantu II          : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
  • Pembantu III        : Senduk (Jong Celebes)
  • Pembantu IV        : Johanes Leimena (yong Ambon)
  • Pembantu V          : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
kita coba ingat kembali sejarah awal mula gerakan mahasiswa yang ada di indonesia. 1925 persatuan mahasiswa yang di pelopori Moh Hatta dkk. yang menempuh pendidikan di belanda merasa sudah waktunya berdaulat, dan kedaulatan tersebut adalah rakyat yang terjajah oleh para pejajah yang buas.
1928, adalah manifiesto pertama yang di sepakati oleh para intelektual muda bangsa, Muhammad Yamin dkk, secara tegas dan gigih menformulasikan sebuah Sumpah Pemuda yang perjalanan nya sangat alot, Indonesia Raya pun berkumandang untuk pertama kalinya dalam forum kongres pemuda ke-II tersebut.
Apa tanggung jawab pemuda hari ini, reformulasi pendidikan, budaya, ekonomi, politik dll. Adalah hal yang harus di sentuh secara serius oleh anak muda, benturan modernism dan feodalisme serta neoliberalisme semakin rapi membunuh perlahan dengan budaya baru yang di terima secara tangan sangat terbuka oleh kalangan anak muda. Semakin kita diam semakin tergerus harga diri anak muda bangsa hari ini..








Jumat, 04 Juli 2014

PMII perspektif Ideologi



Murdianto*
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
Catatan awal
Sangat banyak orang menggunakan kata “ideology”. Tapi seringkali kata selalu digunakan untuk menyertai tuduhan kepada fihak lain yang sangat meyakini kepercayaan tertentu. “kamu pengikut ideologi komunis”. Dalam ilmu-ilmu sosial, ideologi dapat bermakna positif dan sekaligus negatif. Istilah ini pertama kali di gunakan de Tracy pada akhir abad ke XVIII, memunculkan kata ideologi sebagai ”ilmu tentang gagasan”
Cakupan ideologi menurut de Tracy adalah nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan, atau wawasan tentang dunia, etos dan semacamnya. Pengertian ini sering di sebut sebagai pendekatan yang ‘netral’ tentang ideologi.
Namun dalam perkembangannya istilah ideologi di‘sempitkan’ maknanya oleh Marx, Freud. Ideologi lebih dipahami sebagai, sistem gagasan yang dapat digunakan untuk ‘me-rasionalisasi-kan, mem-beri-kan teguran, memaafkan, menyerang atau menjelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak dan pengaturan kultural tertentu.
Namun ideologi juga sering di pandang miring alias negatif oleh banyak ilmuwan seperti yang di ungkap Arief Budiman. Ideologi selalu bermakna tidak sesuai dengan kebenaran. Pengetahuan yang bersifat ideologis, berarti pengetahuan yang lebih sarat dengan keyakinan subyektif seseorang, dari pada sarat dengan fakta-fakta empirik. Bila anda berdebat, kemudian pandangan anda di tuduh ‘ideologis’ berarti anda dianggap bersikap subyektif, tidak kritis lagi terhadap kebenaran yang ada. Dan ideologi adalah pengetahuan yang menyesatkan, dan Marx adalah pelopor pandangan ini.
Pengertian serupa dapat di lihat dalam World Book Encyclopedia, yang mendefiniskan:
“Ideologi tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaannya. Orang cenderung menerima sebuah sistem pikiran (atau gagasan) tertentu ini tentu menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang ada. …Karena itu, orang yang secara kuat menganut ideologi tertentu mengalami kesukaran mengerti dan berhubungan dengan penganut ideologi lain.”
Ketiga pandangan diatas, sama–sama memiliki signifikasi bagi masing-masing kepentigan. Pengertian pertama (de Tracy) penting untuk kepentingan pengetahuan dan penelitian, kedua (Marx yang dibenarkan oleh Arif Budiman) penting untuk melakukan kritik terhadap ideologi dominan (the dominant ideology).
Dan tentu untuk insan pergerakan, penting untuk mengetahui sisi positif ideologi, yakni perannya sebagai “artikulasi kepentingan gerakan/organisasi”. Memang ideologi diciptakan untuk memberi arah bagi terpenuhinya kepentingan sebuah kelompok sosial tertentu. Ideologi dalam sebuah gerakan sering di fungsikan untuk mengatur dan mengarahkan aktivitas gerakan. Walaupun memang ideologi mengandung kemungkinan besar memanipulasi kebenaran, tetapi tetap memiliki signifikansi bagi sebuah gerakan atau organisasi bahkan partai politik.
Ideologi dalam konteks gerakan
Ideologi dalam konteks sebuah gerakan sosial atau organisasi, atau sebagai pengatur aktivitas gerakan, memiliki beberapa aspek kunci yakni landasan filosofis dan analisis sosial, tahap-tahapan perjuangan/gerakan dan masyarakat ideal (yang dituju) dimasa depan. Artinya ideologi, selalu memiliki unsur teleologis (berpijak pada tujuan-tujuan). Setelah meneliti dari berbagai sumber dan membaca kecenderungan sebuah gerakan sosial (semacam komunisme), penulis mengidentifikasi elemen kunci dari ideologi gerakan adalah:
1. Landasan filosofis (ontologis, epistemologis maupun metode berfikir) baik tentang bagaimana realitas, manusia, masyarakat maupun sejarah di definisikan. Marx memberi contoh :
- seperti materialisme dan dialektika dalam ontologis sejarah masyarakat manusia sekaligus metode berfikir, yang menghasilkan prinsip historical materialism.
- Atau struktur sosial akan menetukan kesadaran manusia, bukan kesadaran manusua yang menentukan struktur sosial (manusia hanya obyek sejarah)
- Dan seterusnya, contoh: Ansos-nya Marx mendefiniskan ada klasifikasi kelas sosial, seperti Kapitalis, Bourguese (borjuis), dan proletar. Klasifikasi ini di lengkapi dengan teori ekonomi surplus value, untuk menjelaskan bagaimana munculnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat.
2. Tahapan perjuangan/kerja gerakan
Tahapan-tahapan yang harus/dan memang pasti dilalui untuk menuju terwujudnya kepentingan (cita-cita ideal) sebuah organisasi.
Sebagai contoh Marx dalam “Manfesto der Komuniscten Partij” tahapan yang harus dilalui adalah class struggle (pertarungan kelas).
- Yakni antara kelas feodal dan kelas kapitalis (tahap I) yang menghasilkan revolusi kapitalis
- Kemudian berlanjut tahap II yakni revolusi berjuis, berupa kemenangan kelas borjuis atas kelas kapitalis
- Yang tahap terakhir adalah revolusi komunis, yang merupakan puncak kemenangan kelas proletar terhadap kelas borjuis. Revolusi inilah yang menghasilkan masyarakat ideal ala marx (masyarakat komunis)
3. Masyarakat ideal. Masyarakat masa depan yang di cita-citakan: seperti daulah islamiyah, civil society, masyarakat komunis, masyarakat kapitalis dan seterusnya. Masyarakat yang hanya akan ada di masa depan
Marx misalnya berangkat dari cita-cita luhur untuk mewujudkan keadilan abadi di bumi, mencita-citakan masyarakat sama-rasa, sama-rata (masyarakat komunis)
Kita lihat gambaran di atas, sebuah ideologi dapat memenuhi fungsi mengarahkan aktifitas gerakan bila mampu memberikan kesan universal, obyektif dan natural. Maka ideologi selalu melakukan universalisasi, obyektifikasi sekaligus naturalisasi gagasan-gagasan yang sedang di usungnya.
Universalisasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan pandangannya bisa berlaku di semua belahan dunia asal itu dunia manusia. Masyarakat komunis misalnya di ramalkan Marx akan bisa terjadi di semua tempat, dan oleh karena itu tahapan – tahapan revolusi-pun akan terjadi di semua tempat. Tanpa memandang suku, bangsa agama dan sejenisnya.
Obyektifikasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan pandangannya di dukung oleh metode ilmiah dan empirik. Bagaimana Marx menunjukkan bagaimana cara dia menjawab pertanyaan: mengapa terjadi pengkelasan sosial. Jawabannya: adanya surplus value, yang dianut oleh pemegang modal yang diteliti dari konteks Eropa barat pada abad XIX. Bila kita amati proses ini melampaui hukum-hukum metode ilmiah yang sangat ketat, yang akhirnya sampai kesimpulan.
Naturalisasi, ideologi selalu berusaha menunjukkan gagasannya selalu alamiah (natural), yang merupakan potret kejadian yang sangat alamiah. Perputaran kenyataan kehidupan baik kemasyarakatan atau yang lainnya di definisikan oleh sebuah ideologi sebagai kenyataan yang ‘apa adanya’ dan tidak di buat-buat.
Isi dan perwatakan ideologi ini, berlaku pada semua ideologi dunia seperti kapitalisme, komunisme, nasionalisme, islamisme, dan sederet ideologi besar dunia lainnya. Kesemuannya (pada titi tertentu) mampu mensistematisir gagasannya untuk menjawab persoalan kehidupan dan kemsyarakatan manusia. Fenomena sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya akan di teropong dengan pandangan mendasar sebuah ideologi bagi para penganutnya. Untuk itu buatlah berbagai contoh jawaban dari ideologi dunia sebagaimana pengetahuan yang anda miliki, untuk mempertajam analisis kita. Walaupun dalam praktiknya kita akan menemukan kontradiksi antar elemen gagasan dalam sebuah ideologi.
Misalnya: kontradiksi antara hukum dialektika materialisme atau dialektika historisme yang mengandaikan pertarungan (proses dialektis) yang tak pernah henti dan tak pernah berakhir dalam sebuah masyarakat. Adanya akhir sejarah dalam pikiran idelogi komunis, dengan terbentuknya masyarakat komunis, bertentangan dengan dalam hukum dialektika materialisme yang tidak kenal “akhir sejarah”, sejarah adalah “pertarungan yang tiada henti”. Sebuah dialektika yang tak pernah punya akhir. Ini sebagian kecil contoh.
Dan oleh sebab itu, semakin kecil kontradiksi dalam sebuah ideologi, ia memiliki kekuatan menghadapi kritik dan serangan lawan ideologi. Semakin besar kontradiksi intenal antar konsep-konsep dalam sebuah ideologi, akan semakin lemah menghadapi serangan lawan ideologinya. Bagaimana dengan ideologi PMII bila di teropong dengan perspektif semacam ini.
Kritis, Transendensi dan Transformasi: Ideologi PMII?
Memperhatikan beberapa nilai yang sering di ritualisasi PMII dalam perjalanan sejarahnya, (saya) mencoba mencari rangkaian yang ‘mungkin’ dari ideology kita sebagai organisasi gerakan yakni:
1. Landasan etis
Disinilah posisi NDP dan Aswaja harus di letakkan. Seperangkat nilai ini membangun roh, semangat, dan keberfihakan kita. NDP jelas memberi landasan bagaimana transendensi atas nilai-nilai ilahiyah harus terwujud dimuka bumi dalam kehidupan sosial.
2. Landasan filosofis
Kritisisme, sebagai alat tafsir realitas menemukan tempatnya di sini. Namun sikap kritis ini harus di derivasi secara lebih detail dengan menggunakan pisau analisis yang lebih tajam dengan teori sosial yang sesuai dengan keberfihakan PMII terhadap basis sosial dan kulturalnya (kaum mustadha’fin dan islam tradisionalis).
3. Tahapan perjuangan/kerja gerakan
Agensi subyek dan Trasendensi. Istilah “rekayasa sosial menghasilkan kader PMII yang bercitra ulul albab menemukan posisi di wilayah kerja perjuangan. Sebagai organisasi kader, sudah seharusnyalah kader (agen) memiliki posisi sentral. Kerja dan perjuangan gerakan sepenuhnya di abdikan terhadap proses kaderisasi, yang dapat dipastikan memiliki implikasi sosial, lewat proses diaspora kader dalam ruang-ruang masyarakat sipil.
4. Masyarakat ideal.
Civil Society, dalam arti masyarakat yang demokratis dalam politik, memiliki keadilan dalam ekonomi, dan kesetaraan sosial.
Namun, skema diatas masih terlalu dini untuk menjadi ideology yang tangguh. Karena berbagai kontradiksi internal antar konsepsi dalam ‘ideologi’ yang kita punya. Beberapa pertanyaan di bawah ini sebaiknya kita jadikan renungan, bahkan agenda kita ke depan.
Pertanyaan bagi PMII?
Dengan deskripsi diatas, (saya) belum mampu menemukan apa ideologi (dalam pengertian yang fix) yang di anut PMII. Dan (menurut saya) banyak hal yang menyebabkan PMII belum bisa di katakan memiliki sebuah ideologi. Mungkin juga, para pendirinya memang tidak menginginkan PMII terjebak dalam sebuah ‘ideologi beragam ideologi’ atau ‘ideologi ambil sana sini’. Atau juga kemungkinan lain, misalnya PMII memang selalu bingung dengan beragam ideologi yang tersedia dan tidak punya kekuatan atau keinginan untuk memilih. Semuanya serba mungkin.
Untuk yang terakhir, saya memiliki beberapa pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya. Dan mungkin akan menjadi agenda PMII dan kadernya, di masa yang akan datang :
Pertama, “Apakah jenis kelamin ideologi yang dianut PMII, diantara peta ideologi besar dunia dimana? Apakah karena PMII menganut Paradigma Kritis-Transformatif, kemudian sekaligus menganut ‘ideologi kritik ideologi¬’-nya Jurgen Habermas dan transformasi basis struktur ala marxian. Atau kalau Aswaja di anggap Ideologi, sudahkan pengertian Aswaja ‘ala PMII mampu memenuhi syarat (sah) sebagai ideologi gerakan?
Kedua, atau selama ini memang PMII memang ‘ditakdirkan’ sebagai organisasi yang berideologi ganda, karena sukanya ambil sana sini? Karena PMII bangga dengan istilah al muhafadhatu ‘ala qadimi sholih wal ahdul bil jadidil ashlah” dan oleh sebab itu ‘berasyik-masyuk’ dalam terhadap istilah liberasi, demokrasi, keadilan, kemanusiaan dan seterusnya? Bukankah istilah itu berasal dari beragam ideologi, sama statusnya dengan ideologi tunggal Pancasila yang memang rangkuman berbagai ideologi ? Ketiga, Atau memang PMII itu unik, dan bekerja diluar kepentingan ideologi itu? Dan untuk itu tidak peduli dengan soal ideologi?
Tapi yang pasti tanpa ideologi, sebuah organisasi pasti akan mengalami kontradiksi internal yang terus menerus. Apakah ini positif atau negatif bagi perkembangan PMII, itu sejarah yang akan menjawab. Yang terakhir adalah dua pilihan yang harus diambil oleh PMII, yakni: untuk membuka kembali perdebatan tentang ideologi dalam PMII. atau mingkin kita tutup sampai di sini perdebatan tentang ideologi PMII, dan organisasi yang ada sekarang kita anggap final. Ataukah membiarkan ideologi PMII selalu dalam tanda kutip (“…..”), artinya biarkanlah ada dua beragam penafsiran dan perdebatan tentang ideologi PMII. Menurut Jaques Derrida kemungkinan terakhirlah yang paling mungkin dilakukan. Tetapi sejak awal PMII keberfihakan
*) Murdianto, Koord Biro Kaderisasi Nasional PB PMII 2005-2007. Direktur Pelaksana pada Institute for Religion and Cultural Studies (IRCāS) Ponorogo dan kepala peneliti pada LP2M INSURI Ponorogo.