Murdianto*
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
Catatan awal
Sangat banyak orang menggunakan kata “ideology”. Tapi seringkali kata
selalu digunakan untuk menyertai tuduhan kepada fihak lain yang sangat
meyakini kepercayaan tertentu. “kamu pengikut ideologi komunis”. Dalam
ilmu-ilmu sosial, ideologi dapat bermakna positif dan sekaligus negatif.
Istilah ini pertama kali di gunakan de Tracy pada akhir abad ke XVIII,
memunculkan kata ideologi sebagai ”ilmu tentang gagasan”
Cakupan ideologi menurut de Tracy adalah nilai, norma, falsafah, dan
kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan, atau wawasan
tentang dunia, etos dan semacamnya. Pengertian ini sering di sebut
sebagai pendekatan yang ‘netral’ tentang ideologi.
Namun dalam perkembangannya istilah ideologi di‘sempitkan’ maknanya oleh
Marx, Freud. Ideologi lebih dipahami sebagai, sistem gagasan yang dapat
digunakan untuk ‘me-rasionalisasi-kan, mem-beri-kan teguran, memaafkan,
menyerang atau menjelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak dan
pengaturan kultural tertentu.
Namun ideologi juga sering di pandang miring alias negatif oleh banyak
ilmuwan seperti yang di ungkap Arief Budiman. Ideologi selalu bermakna
tidak sesuai dengan kebenaran. Pengetahuan yang bersifat ideologis,
berarti pengetahuan yang lebih sarat dengan keyakinan subyektif
seseorang, dari pada sarat dengan fakta-fakta empirik. Bila anda
berdebat, kemudian pandangan anda di tuduh ‘ideologis’ berarti anda
dianggap bersikap subyektif, tidak kritis lagi terhadap kebenaran yang
ada. Dan ideologi adalah pengetahuan yang menyesatkan, dan Marx adalah
pelopor pandangan ini.
Pengertian serupa dapat di lihat dalam World Book Encyclopedia, yang mendefiniskan:
“Ideologi tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat
kepercayaannya. Orang cenderung menerima sebuah sistem pikiran (atau
gagasan) tertentu ini tentu menolak sistem pikiran lain yang tidak sama
dalam menjelaskan kenyataan yang ada. …Karena itu, orang yang secara
kuat menganut ideologi tertentu mengalami kesukaran mengerti dan
berhubungan dengan penganut ideologi lain.”
Ketiga pandangan diatas, sama–sama memiliki signifikasi bagi
masing-masing kepentigan. Pengertian pertama (de Tracy) penting untuk
kepentingan pengetahuan dan penelitian, kedua (Marx yang dibenarkan oleh
Arif Budiman) penting untuk melakukan kritik terhadap ideologi dominan
(the dominant ideology).
Dan tentu untuk insan pergerakan, penting untuk mengetahui sisi positif
ideologi, yakni perannya sebagai “artikulasi kepentingan
gerakan/organisasi”. Memang ideologi diciptakan untuk memberi arah bagi
terpenuhinya kepentingan sebuah kelompok sosial tertentu. Ideologi dalam
sebuah gerakan sering di fungsikan untuk mengatur dan mengarahkan
aktivitas gerakan. Walaupun memang ideologi mengandung kemungkinan
besar memanipulasi kebenaran, tetapi tetap memiliki signifikansi bagi
sebuah gerakan atau organisasi bahkan partai politik.
Ideologi dalam konteks gerakan
Ideologi dalam konteks sebuah gerakan sosial atau organisasi, atau
sebagai pengatur aktivitas gerakan, memiliki beberapa aspek kunci yakni
landasan filosofis dan analisis sosial, tahap-tahapan perjuangan/gerakan
dan masyarakat ideal (yang dituju) dimasa depan. Artinya ideologi,
selalu memiliki unsur teleologis (berpijak pada tujuan-tujuan). Setelah
meneliti dari berbagai sumber dan membaca kecenderungan sebuah gerakan
sosial (semacam komunisme), penulis mengidentifikasi elemen kunci dari
ideologi gerakan adalah:
1. Landasan filosofis (ontologis, epistemologis maupun metode berfikir)
baik tentang bagaimana realitas, manusia, masyarakat maupun sejarah di
definisikan. Marx memberi contoh :
- seperti materialisme dan dialektika dalam ontologis sejarah masyarakat
manusia sekaligus metode berfikir, yang menghasilkan prinsip historical
materialism.
- Atau struktur sosial akan menetukan kesadaran manusia, bukan kesadaran
manusua yang menentukan struktur sosial (manusia hanya obyek sejarah)
- Dan seterusnya, contoh: Ansos-nya Marx mendefiniskan ada klasifikasi
kelas sosial, seperti Kapitalis, Bourguese (borjuis), dan proletar.
Klasifikasi ini di lengkapi dengan teori ekonomi surplus value, untuk
menjelaskan bagaimana munculnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat.
2. Tahapan perjuangan/kerja gerakan
Tahapan-tahapan yang harus/dan memang pasti dilalui untuk menuju terwujudnya kepentingan (cita-cita ideal) sebuah organisasi.
Sebagai contoh Marx dalam “Manfesto der Komuniscten Partij” tahapan yang
harus dilalui adalah class struggle (pertarungan kelas).
- Yakni antara kelas feodal dan kelas kapitalis (tahap I) yang menghasilkan revolusi kapitalis
- Kemudian berlanjut tahap II yakni revolusi berjuis, berupa kemenangan kelas borjuis atas kelas kapitalis
- Yang tahap terakhir adalah revolusi komunis, yang merupakan puncak
kemenangan kelas proletar terhadap kelas borjuis. Revolusi inilah yang
menghasilkan masyarakat ideal ala marx (masyarakat komunis)
3. Masyarakat ideal. Masyarakat masa depan yang di cita-citakan: seperti
daulah islamiyah, civil society, masyarakat komunis, masyarakat
kapitalis dan seterusnya. Masyarakat yang hanya akan ada di masa depan
Marx misalnya berangkat dari cita-cita luhur untuk mewujudkan keadilan
abadi di bumi, mencita-citakan masyarakat sama-rasa, sama-rata
(masyarakat komunis)
Kita lihat gambaran di atas, sebuah ideologi dapat memenuhi fungsi
mengarahkan aktifitas gerakan bila mampu memberikan kesan universal,
obyektif dan natural. Maka ideologi selalu melakukan universalisasi,
obyektifikasi sekaligus naturalisasi gagasan-gagasan yang sedang di
usungnya.
Universalisasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan
pandangannya bisa berlaku di semua belahan dunia asal itu dunia manusia.
Masyarakat komunis misalnya di ramalkan Marx akan bisa terjadi di semua
tempat, dan oleh karena itu tahapan – tahapan revolusi-pun akan terjadi
di semua tempat. Tanpa memandang suku, bangsa agama dan sejenisnya.
Obyektifikasi, ideologi harus mampu menjelaskan gagasan, analisis dan
pandangannya di dukung oleh metode ilmiah dan empirik. Bagaimana Marx
menunjukkan bagaimana cara dia menjawab pertanyaan: mengapa terjadi
pengkelasan sosial. Jawabannya: adanya surplus value, yang dianut oleh
pemegang modal yang diteliti dari konteks Eropa barat pada abad XIX.
Bila kita amati proses ini melampaui hukum-hukum metode ilmiah yang
sangat ketat, yang akhirnya sampai kesimpulan.
Naturalisasi, ideologi selalu berusaha menunjukkan gagasannya selalu
alamiah (natural), yang merupakan potret kejadian yang sangat alamiah.
Perputaran kenyataan kehidupan baik kemasyarakatan atau yang lainnya di
definisikan oleh sebuah ideologi sebagai kenyataan yang ‘apa adanya’ dan
tidak di buat-buat.
Isi dan perwatakan ideologi ini, berlaku pada semua ideologi dunia
seperti kapitalisme, komunisme, nasionalisme, islamisme, dan sederet
ideologi besar dunia lainnya. Kesemuannya (pada titi tertentu) mampu
mensistematisir gagasannya untuk menjawab persoalan kehidupan dan
kemsyarakatan manusia. Fenomena sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya
akan di teropong dengan pandangan mendasar sebuah ideologi bagi para
penganutnya. Untuk itu buatlah berbagai contoh jawaban dari ideologi
dunia sebagaimana pengetahuan yang anda miliki, untuk mempertajam
analisis kita. Walaupun dalam praktiknya kita akan menemukan kontradiksi
antar elemen gagasan dalam sebuah ideologi.
Misalnya: kontradiksi antara hukum dialektika materialisme atau
dialektika historisme yang mengandaikan pertarungan (proses dialektis)
yang tak pernah henti dan tak pernah berakhir dalam sebuah masyarakat.
Adanya akhir sejarah dalam pikiran idelogi komunis, dengan terbentuknya
masyarakat komunis, bertentangan dengan dalam hukum dialektika
materialisme yang tidak kenal “akhir sejarah”, sejarah adalah
“pertarungan yang tiada henti”. Sebuah dialektika yang tak pernah punya
akhir. Ini sebagian kecil contoh.
Dan oleh sebab itu, semakin kecil kontradiksi dalam sebuah ideologi, ia
memiliki kekuatan menghadapi kritik dan serangan lawan ideologi. Semakin
besar kontradiksi intenal antar konsep-konsep dalam sebuah ideologi,
akan semakin lemah menghadapi serangan lawan ideologinya. Bagaimana
dengan ideologi PMII bila di teropong dengan perspektif semacam ini.
Kritis, Transendensi dan Transformasi: Ideologi PMII?
Memperhatikan beberapa nilai yang sering di ritualisasi PMII dalam
perjalanan sejarahnya, (saya) mencoba mencari rangkaian yang ‘mungkin’
dari ideology kita sebagai organisasi gerakan yakni:
1. Landasan etis
Disinilah posisi NDP dan Aswaja harus di letakkan. Seperangkat nilai ini
membangun roh, semangat, dan keberfihakan kita. NDP jelas memberi
landasan bagaimana transendensi atas nilai-nilai ilahiyah harus terwujud
dimuka bumi dalam kehidupan sosial.
2. Landasan filosofis
Kritisisme, sebagai alat tafsir realitas menemukan tempatnya di sini.
Namun sikap kritis ini harus di derivasi secara lebih detail dengan
menggunakan pisau analisis yang lebih tajam dengan teori sosial yang
sesuai dengan keberfihakan PMII terhadap basis sosial dan kulturalnya
(kaum mustadha’fin dan islam tradisionalis).
3. Tahapan perjuangan/kerja gerakan
Agensi subyek dan Trasendensi. Istilah “rekayasa sosial menghasilkan
kader PMII yang bercitra ulul albab menemukan posisi di wilayah kerja
perjuangan. Sebagai organisasi kader, sudah seharusnyalah kader (agen)
memiliki posisi sentral. Kerja dan perjuangan gerakan sepenuhnya di
abdikan terhadap proses kaderisasi, yang dapat dipastikan memiliki
implikasi sosial, lewat proses diaspora kader dalam ruang-ruang
masyarakat sipil.
4. Masyarakat ideal.
Civil Society, dalam arti masyarakat yang demokratis dalam politik, memiliki keadilan dalam ekonomi, dan kesetaraan sosial.
Namun, skema diatas masih terlalu dini untuk menjadi ideology yang
tangguh. Karena berbagai kontradiksi internal antar konsepsi dalam
‘ideologi’ yang kita punya. Beberapa pertanyaan di bawah ini sebaiknya
kita jadikan renungan, bahkan agenda kita ke depan.
Pertanyaan bagi PMII?
Dengan deskripsi diatas, (saya) belum mampu menemukan apa ideologi
(dalam pengertian yang fix) yang di anut PMII. Dan (menurut saya) banyak
hal yang menyebabkan PMII belum bisa di katakan memiliki sebuah
ideologi. Mungkin juga, para pendirinya memang tidak menginginkan PMII
terjebak dalam sebuah ‘ideologi beragam ideologi’ atau ‘ideologi ambil
sana sini’. Atau juga kemungkinan lain, misalnya PMII memang selalu
bingung dengan beragam ideologi yang tersedia dan tidak punya kekuatan
atau keinginan untuk memilih. Semuanya serba mungkin.
Untuk yang terakhir, saya memiliki beberapa pertanyaan yang harus kita
temukan jawabannya. Dan mungkin akan menjadi agenda PMII dan kadernya,
di masa yang akan datang :
Pertama, “Apakah jenis kelamin ideologi yang dianut PMII, diantara peta
ideologi besar dunia dimana? Apakah karena PMII menganut Paradigma
Kritis-Transformatif, kemudian sekaligus menganut ‘ideologi kritik
ideologi¬’-nya Jurgen Habermas dan transformasi basis struktur ala
marxian. Atau kalau Aswaja di anggap Ideologi, sudahkan pengertian
Aswaja ‘ala PMII mampu memenuhi syarat (sah) sebagai ideologi gerakan?
Kedua, atau selama ini memang PMII memang ‘ditakdirkan’ sebagai
organisasi yang berideologi ganda, karena sukanya ambil sana sini?
Karena PMII bangga dengan istilah al muhafadhatu ‘ala qadimi sholih wal
ahdul bil jadidil ashlah” dan oleh sebab itu ‘berasyik-masyuk’ dalam
terhadap istilah liberasi, demokrasi, keadilan, kemanusiaan dan
seterusnya? Bukankah istilah itu berasal dari beragam ideologi, sama
statusnya dengan ideologi tunggal Pancasila yang memang rangkuman
berbagai ideologi ? Ketiga, Atau memang PMII itu unik, dan bekerja
diluar kepentingan ideologi itu? Dan untuk itu tidak peduli dengan soal
ideologi?
Tapi yang pasti tanpa ideologi, sebuah organisasi pasti akan mengalami
kontradiksi internal yang terus menerus. Apakah ini positif atau negatif
bagi perkembangan PMII, itu sejarah yang akan menjawab. Yang terakhir
adalah dua pilihan yang harus diambil oleh PMII, yakni: untuk membuka
kembali perdebatan tentang ideologi dalam PMII. atau mingkin kita tutup
sampai di sini perdebatan tentang ideologi PMII, dan organisasi yang ada
sekarang kita anggap final. Ataukah membiarkan ideologi PMII selalu
dalam tanda kutip (“…..”), artinya biarkanlah ada dua beragam penafsiran
dan perdebatan tentang ideologi PMII. Menurut Jaques Derrida
kemungkinan terakhirlah yang paling mungkin dilakukan. Tetapi sejak awal
PMII keberfihakan
*) Murdianto, Koord Biro Kaderisasi Nasional PB PMII 2005-2007. Direktur
Pelaksana pada Institute for Religion and Cultural Studies (IRCāS)
Ponorogo dan kepala peneliti pada LP2M INSURI Ponorogo.